Alur Diagnosis Persalinan Preterm
Evaluasi pasien dengan kecurigaan persalinan preterm pada usia kehamilan 22+0-36+6 minggu (adaptasi Bagan 1, linearisasi dari flowchart bercabang asli).
Algoritme khusus anggota
Masuk untuk melihat
KOGI
Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia
| Faktor risiko | Temuan | Peringkat bukti |
|---|---|---|
| Usia ibu muda | Kehamilan ≤19 tahun meningkatkan risiko (OR 1,77) | I |
| Jarak antar kehamilan pendek | <3 bulan (OR 1,89), 3–5 bulan (OR 1,33), 6–12 bulan (OR 1,15) dibandingkan 18–23 bulan | III |
| Tinggi badan ibu <145 cm | RR 1,42 | I |
| IMT berlebih (>25) awal kehamilan | Risiko meningkat seiring IMT; OR 1,26–2,99 tergantung derajat obesitas | III |
| Bakteriuria asimtomatik | Meningkatkan insidens persalinan preterm; skrining & tata laksana menurunkan risiko hingga 73% | I |
| Anemia | OR 1,21 pada trimester I/II | I |
| Hipertensi kronik | RR 2,7 dibanding normotensi | I |
| Diabetes melitus | OR 2,35 | III |
| Merokok | Kontribusi 10–15% kasus persalinan preterm | III |
| Kehamilan IVF | OR 1,14–1,17 dibanding kehamilan spontan/FET | I |
| Riwayat persalinan preterm sebelumnya | Meningkatkan risiko rekurensi 1,5–2 kali | III |
Progesteron vaginal menurunkan risiko persalinan preterm <33 minggu secara bermakna pada perempuan dengan serviks pendek (RR 0,69; 95% IK 0,51–0,93). 17-hydroxy progesterone caproate (17-OHPC) tidak seefektif progesteron oral/vaginal.
Rekomendasi: progesteron diberikan mulai usia kehamilan 16–24 minggu hingga 36 minggu pada kehamilan tunggal dengan faktor risiko persalinan preterm, tanpa memandang hasil panjang serviks pada perempuan dengan riwayat persalinan preterm. Progesteron vaginal ditawarkan pada perempuan asimtomatik kehamilan tunggal dengan panjang serviks ≤20 mm pada usia kehamilan ≤24 minggu. Progesteron tidak direkomendasikan pada kehamilan ganda. (Derajat Rekomendasi A)
Sirklase menurunkan kelahiran preterm, morbiditas, dan mortalitas perinatal pada pasien dengan riwayat kelahiran preterm dan serviks pendek pada USG transvaginal.
(Derajat Rekomendasi A)
Aspirin dosis rendah (50–150 mg) menurunkan insidens persalinan preterm pada perempuan risiko tinggi (mis. riwayat preeklamsia) dibandingkan plasebo (RR 0,22; 95% IK 0,10–0,49). Efektif bila diberikan sebelum usia kehamilan 16 minggu; pemberian setelah 16 minggu tidak terbukti efektif.
Rekomendasi: aspirin dosis rendah 80 mg diberikan sebelum usia kehamilan 16 minggu pada perempuan dengan riwayat preeklamsia atau risiko tinggi kehamilan lainnya. (Derajat Rekomendasi A)
Persalinan preterm adalah kelahiran yang terjadi antara usia kehamilan 22+0 minggu dan 36+6 minggu. Berdasarkan keadaan klinis, persalinan preterm dibagi menjadi persalinan preterm spontan (aktivasi spontan proses persalinan: pematangan serviks, aktivasi membran dan desidua, kontraksi uterus) dan kelahiran preterm karena indikasi (kehamilan diakhiri sengaja karena indikasi maternal atau janin).
Klasifikasi derajat prematuritas yang umum dipakai:
Berdasarkan berat lahir: low birth weight (<2500 g), very low birth weight (<1500 g), extremely low birth weight (<1000 g).
Indonesia menduduki peringkat ke-9 negara dengan tingkat persalinan preterm di atas 15% dan peringkat ke-5 penyumbang persalinan preterm dunia. Diagnosis, pencegahan, dan tatalaksana yang tepat penting untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat kelahiran preterm.
Persalinan preterm merupakan masalah kesehatan global. Data WHO menunjukkan Indonesia menduduki peringkat ke-9 negara dengan tingkat persalinan preterm lebih dari 15% dari total kelahiran (15,5%), dan peringkat ke-5 penyumbang persalinan preterm dunia dengan sekitar 675.500 kasus pada tahun 2012 (sekitar 60% dari total persalinan preterm dunia berasal dari 10 negara dengan kontribusi terbesar).
WHO melaporkan hampir satu juta kematian bayi pada tahun 2013 disebabkan oleh komplikasi kelahiran preterm, menjadikannya penyebab terbanyak kematian perinatal pada bayi baru lahir tanpa kelainan bawaan.
Sebagai negara kepulauan tropis dengan keragaman sosial, ekonomi, dan budaya, Indonesia memiliki variasi endemisitas penyakit infeksi yang menjadi salah satu faktor predisposisi utama persalinan preterm. Kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan untuk melakukan perencanaan sebelum kehamilan (preconceptional care) penting untuk menurunkan risiko kejadian persalinan preterm.
Komplikasi bayi preterm mencakup sindrom gawat napas (RDS), perdarahan intraventrikel (IVH), displasia bronkopulmoner (BPD), patent ductus arteriosus (PDA), necrotizing enterocolitis (NEC), sepsis, dan retinopati prematuritas (ROP), serta risiko jangka panjang berupa cerebral palsy, gangguan neurosensorik, penurunan kinerja kognitif dan motorik, kesulitan akademis, dan gangguan perhatian.
Evaluasi klinis pada pasien dengan kemungkinan persalinan preterm meliputi beberapa langkah berikut.
Dilatasi serviks >1 cm dan penipisan ≥80% dinilai melalui pemeriksaan digital intravagina secara steril.
| Panjang serviks | Interpretasi (dengan gejala kontraksi) |
|---|---|
| <20 mm | Persalinan preterm |
| 20–30 mm | Kemungkinan terjadi persalinan preterm |
| >30 mm | Persalinan preterm kemungkinan besar tidak terjadi meskipun ada kontraksi uterus reguler |
Diagnosis persalinan preterm secara tradisional ditegakkan berdasarkan kriteria klinis berupa kontraksi uterus ritmik disertai perubahan serviks (dilatasi dan/atau penipisan). Dengan kriteria ini, diagnosis berlebihan (overdiagnosis) sering terjadi (40–70%), dan kurang dari 10% pasien benar-benar bersalin dalam 7 hari setelah gejala muncul.
| Kriteria | Keterangan |
|---|---|
| Kontraksi uterus | 4 kali dalam 20 menit, atau 8 kali dalam 60 menit, disertai perubahan serviks |
| Dilatasi serviks | >1 cm |
| Penipisan serviks | ≥80% |
| Panjang serviks | Interpretasi |
|---|---|
| <20 mm dengan gejala kontraksi | Persalinan preterm |
| 20–30 mm dengan gejala kontraksi | Kemungkinan terjadi persalinan preterm |
| >30 mm | Persalinan preterm kemungkinan besar tidak terjadi walaupun ada kontraksi uterus reguler |
Hubungan panjang serviks dengan likelihood ratio (LR) kelahiran menurut usia kehamilan (dikutip dari Celik dkk.):
| Panjang serviks (mm) | LR <28 minggu | LR 28–30 minggu | LR 31–33 minggu | LR 34–36 minggu |
|---|---|---|---|---|
| <2 | 745,29 | 74,29 | 44,22 | 99,36 |
| 5 | 119,19 | 36,81 | 24,26 | 18,10 |
| 10 | 26,79 | 18,24 | 13,31 | 6,53 |
| 15 | 8,26 | 9,04 | 7,30 | 3,47 |
| 20 | 3,03 | 4,48 | 4,01 | 2,20 |
| 25 | 1,25 | 2,22 | 2,20 | 1,53 |
Panduan ini adalah adaptasi dari Panduan Persalinan Preterm, disusun oleh Tim Kerja POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) dan HKFM (Himpunan Kedokteran Feto Maternal Indonesia) bersama Dinas Kesehatan Indonesia, cetakan pertama 2019 (ISBN 978-602-52448-1-0).
Bukti disusun dari hasil penelusuran bukti sekunder (uji kontrol acak, meta-analisis, telaah sistematik, buku ajar, uji klinis, dan panduan organisasi kesehatan) melalui PubMed, Cochrane, dan Clinical Key. Penelusuran awal menghasilkan 1910 (PubMed), 108 (Cochrane), dan 1223 (Clinical Key) kepustakaan; setelah telaah lanjut, 81 artikel digunakan untuk menyusun panduan ini. Setiap bukti ditelaah kritis oleh 3 pakar Obstetri dan Ginekologi.
Peringkat bukti mengikuti klasifikasi Oxford Centre for Evidence-Based Medicine (2011), 5 derajat bukti (I–V), dengan derajat rekomendasi A (bukti derajat I), B (derajat II–III), C (derajat IV), dan D (derajat V).
Daftar pustaka lengkap tersedia pada bagian Referensi.
Sumber utama: Panduan Persalinan Preterm, POGI-HKFM, 2019 (ISBN 978-602-52448-1-0). Daftar pustaka berikut dikelompokkan mengikuti bab asal dalam dokumen sumber.
Pedoman & Sumber
Lihat dokumen & sitasi ilmiah terkait di Referensi.
Peringatan
Panduan ini bersifat dukungan keputusan klinis (CDS ringan), bukan pengganti penilaian klinis langsung. Keputusan akhir tetap menjadi tanggung jawab klinisi yang merawat pasien.
Pembaruan konten.
14 Juli 2026
Ringkasan & Rekomendasi
Persalinan preterm adalah kelahiran yang terjadi antara usia kehamilan 22+0 minggu dan 36+6 minggu. Berdasarkan keadaan klinis, persalinan preterm dibagi menjadi persalinan preterm spontan (aktivasi spontan proses persalinan: pematangan serviks, aktivasi membran dan desidua, kontraksi uterus) dan kelahiran preterm karena indikasi (kehamilan diakhiri sengaja karena indikasi maternal atau janin). Klasifikasi derajat prematuritas yang umum dipakai: Extremely preterm: usia kehamilan <28+0 minggu Very preterm: usia kehamilan 28+0–31+6 minggu Moderate to late preterm: usia kehamilan 32+0–36+6 minggu Berdasarkan berat lahir: low birth weight (<2500 g), very low birth weight (<1500 g), extremely low birth weight (<1000 g). Indonesia menduduki peringkat ke-9 negara dengan tingkat persalinan preterm di atas 15% dan peringkat ke-5 penyumbang persalinan preterm dunia. Diagnosis, pencegahan, dan tatalaksana yang tepat penting untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat kelahiran preterm. Ringkasan rekomendasi kunci Pemeriksaan USG transvaginal panjang serviks pada usia kehamilan <24 minggu untuk perempuan hamil tunggal dengan riwayat kelahiran preterm. Progesteron vaginal/oral mulai usia kehamilan 16–24 minggu pada kehamilan tunggal dengan faktor risiko persalinan preterm. Sirklase serviks dipertimbangkan pada kehamilan tunggal dengan riwayat persalinan preterm dan panjang serviks <25 mm. Tokolisis lini pertama (CCB, betamimetik, atau OAINS) untuk menunda persalinan hingga 48 jam guna pemberian kortikosteroid antenatal. Kortikosteroid antenatal pada usia kehamilan 24–34 minggu dengan risiko persalinan dalam 7 hari. Magnesium sulfat sebagai neuroprotektif pada usia kehamilan 24–31+6 minggu dengan risiko kelahiran preterm dalam 24 jam.
Latar Belakang
Persalinan preterm merupakan masalah kesehatan global. Data WHO menunjukkan Indonesia menduduki peringkat ke-9 negara dengan tingkat persalinan preterm lebih dari 15% dari total kelahiran (15,5%), dan peringkat ke-5 penyumbang persalinan preterm dunia dengan sekitar 675.500 kasus pada tahun 2012 (sekitar 60% dari total persalinan preterm dunia berasal dari 10 negara dengan kontribusi terbesar). WHO melaporkan hampir satu juta kematian bayi pada tahun 2013 disebabkan oleh komplikasi kelahiran preterm, menjadikannya penyebab terbanyak kematian perinatal pada bayi baru lahir tanpa kelainan bawaan. Sebagai negara kepulauan tropis dengan keragaman sosial, ekonomi, dan budaya, Indonesia memiliki variasi endemisitas penyakit infeksi yang menjadi salah satu faktor predisposisi utama persalinan preterm. Kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan untuk melakukan perencanaan sebelum kehamilan (preconceptional care) penting untuk menurunkan risiko kejadian persalinan preterm. Komplikasi bayi preterm mencakup sindrom gawat napas (RDS), perdarahan intraventrikel (IVH), displasia bronkopulmoner (BPD), patent ductus arteriosus (PDA), necrotizing enterocolitis (NEC), sepsis, dan retinopati prematuritas (ROP), serta risiko jangka panjang berupa cerebral palsy, gangguan neurosensorik, penurunan kinerja kognitif dan motorik, kesulitan akademis, dan gangguan perhatian.
Anamnesis & Pemeriksaan Fisik
Evaluasi klinis pada pasien dengan kemungkinan persalinan preterm meliputi beberapa langkah berikut. 1. Gejala dan tanda persalinan preterm Kontraksi uterus reguler (lebih dari 6 kali dalam 1 jam) Kram perut, penekanan panggul, nyeri pinggang hilang timbul Peningkatan atau perubahan cairan vagina Perdarahan pervaginam atau bercak (spotting) 2. Pemeriksaan umum Tanda vital Pemeriksaan kardiotokografi (CTG) 3. Pemeriksaan spekulum steril Pemeriksaan pH Pooling cairan di vagina Uji ferning (bukan pemeriksaan rutin) Swab fibronektin (bukan pemeriksaan rutin) Swab vagina untuk kuman GBS (group B Streptococcus) bila dicurigai infeksi GBS intravagina (bukan pemeriksaan rutin) 4. Pemeriksaan ultrasonografi transabdominal Usia kehamilan Lokasi plasenta Indeks Cairan Amnion (ICA) Taksiran berat dan presentasi janin Kesejahteraan janin 5. Pemeriksaan serviks (setelah ketuban pecah dieksklusi) Dilatasi serviks >1 cm dan penipisan ≥80% dinilai melalui pemeriksaan digital intravagina secara steril. 6. Pemeriksaan ultrasonografi serviks (transvaginal) Panjang serviksInterpretasi (dengan gejala kontraksi) <20 mmPersalinan preterm 20–30 mmKemungkinan terjadi persalinan preterm >30 mmPersalinan preterm kemungkinan besar tidak terjadi meskipun ada kontraksi uterus reguler Tahap pengukuran panjang serviks dengan USG transvaginal Kosongkan kandung kemih Serviks dalam tampilan longitudinal Identifikasi kanal serviks dan mukosa sekitar serviks Gunakan magnifikasi yang baik sehingga morfologi serviks mudah teridentifikasi (serviks terlihat 50–75% dari layar) Tekanan probe pada serviks seminimal mungkin; durasi pemeriksaan sekitar 3–5 menit
Diagnosis
Diagnosis persalinan preterm secara tradisional ditegakkan berdasarkan kriteria klinis berupa kontraksi uterus ritmik disertai perubahan serviks (dilatasi dan/atau penipisan). Dengan kriteria ini, diagnosis berlebihan (overdiagnosis) sering terjadi (40–70%), dan kurang dari 10% pasien benar-benar bersalin dalam 7 hari setelah gejala muncul. Kriteria diagnosis (ACOG 1997) KriteriaKeterangan Kontraksi uterus4 kali dalam 20 menit, atau 8 kali dalam 60 menit, disertai perubahan serviks Dilatasi serviks>1 cm Penipisan serviks≥80% USG transvaginal panjang serviks Panjang serviksInterpretasi <20 mm dengan gejala kontraksiPersalinan preterm 20–30 mm dengan gejala kontraksiKemungkinan terjadi persalinan preterm >30 mmPersalinan preterm kemungkinan besar tidak terjadi walaupun ada kontraksi uterus reguler Hubungan panjang serviks dengan likelihood ratio (LR) kelahiran menurut usia kehamilan (dikutip dari Celik dkk.): Panjang serviks (mm)LR <28 mingguLR 28–30 mingguLR 31–33 mingguLR 34–36 minggu <2745,2974,2944,2299,36 5119,1936,8124,2618,10 1026,7918,2413,316,53 158,269,047,303,47 203,034,484,012,20 251,252,222,201,53 Pemeriksaan tambahan Fibronektin janin (usia kehamilan 16–22 minggu): hasil positif jika >50 ng/mL. Sensitivitas dan spesifisitas dalam memprediksi persalinan 7–10 hari sekitar 76,7% dan 82,7%. Belum tersedia rutin di Indonesia. PAMG-1 (placental alpha microglobulin-1): pada beberapa studi memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi dibandingkan panjang serviks dan fibronektin dalam memprediksi persalinan preterm dalam 7 hari; disekresi desidua plasenta ke kantung amnion sehingga dianggap penanda yang lebih akurat.
Penatalaksanaan
Prinsip tatalaksana Ibu hamil dan keluarga berhak mendapat penjelasan, berdiskusi, dan mengambil keputusan atas layanan dan pengobatan yang diterima. Tatalaksana non-farmakologi berupa tirah baring, abstinensia, dan hidrasi tidak rutin direkomendasikan karena bukti efektivitas kurang dan berpotensi menimbulkan efek samping (Derajat Rekomendasi B). Tokolisis Tokolisis digunakan untuk menunda persalinan sementara (hingga 48 jam) guna memberi waktu pemberian kortikosteroid antenatal, MgSO4 neuroprotektif, dan/atau transport ibu ke fasilitas kesehatan tersier. Tokolisis rumatan (terus-menerus) tidak direkomendasikan karena tidak efektif dan tidak memperbaiki luaran neonatus (Derajat Rekomendasi A). Kontraindikasi tokolisis: kematian janin intrauterin, anomali janin letal, preeklamsia berat/eklamsia, perdarahan maternal dengan gangguan hemodinamik, korioamnionitis, dan ketuban pecah dini preterm (PPROM). Golongan obatJenis & dosisEfek samping maternalEfek pada janin/neonatusKontraindikasi Calcium channel blockerNifedipin: 1x20–30 mg, dilanjutkan 10–20 mg/4–8 jam (maks. 90 mg/hari)Sakit kepala, flushing, hipotensi, peningkatan enzim hatiTidak diketahuiHipotensi, lesi jantung (mis. insufisiensi aorta) OAINS (NSAID)Indometasin: inisial 50–100 mg (rektal/vaginal/oral), dilanjutkan 25–50 mg/6 jam maks. 48 jam pada usia kehamilan <32 minggu. Ketorolak: 60 mg IM, dilanjutkan 30 mg/6 jam IM selama 48 jamMual, refleks esofagus, gastritis, emesis, disfungsi trombositKonstriksi duktus arteriosus, oligohidramnion (risiko meningkat >48 jam), NEC, PDADisfungsi trombosit/gangguan perdarahan, disfungsi hepar, penyakit ulseratif gastrointestinal, disfungsi renal, asma Beta adrenergic agonistTerbutalin: 0,25 mg subkutan tiap 20 menit (2–3 jam) atau 5–10 mcg/menit IV (maks. 80 mcg/menit); atau 2,5–5 mg oral tiap 2–4 jamTakikardia, hipotensi, tremor, palpitasi, sesak napas, edema paru, hipokalemia, hiperglikemiaTakikardia janinDiabetes melitus tidak terkontrol, penyakit jantung Antagonis reseptor oksitosinAtosiban: 6,75 mg bolus 1 menit, dilanjutkan drip 18 mg/jam selama 3 jam, kemudian 6 mg/jam hingga 45 jam (maks. 330 mg)--- Magnesium sulfat (sebagai tokolisis)Dosis inisial 4–6 gram/30 menit, dilanjutkan 2–4 gram/jam--Tidak terbukti efektif mencegah kelahiran <37 minggu atau memperpanjang kehamilan; peran utamanya sebagai neuroprotektor, bukan tokolisis Menurut NICE, nifedipin dipertimbangkan pada usia kehamilan 23+0–25+6 minggu dan ditawarkan pada usia kehamilan 26+0–33+6 minggu dengan selaput ketuban utuh dan kecurigaan/diagnosis persalinan preterm. Bila terdapat kontraindikasi nifedipin, dapat diberikan antagonis reseptor oksitosin (betamimetik tidak digunakan pada kontraindikasi nifedipin). Kortikosteroid antenatal Kortikosteroid (betametason atau deksametason) mempercepat kematangan organ janin dan merupakan intervensi penting untuk memperbaiki luaran neonatus. ObatDosisRute Betametason12 mg, diulang 2 kali tiap 24 jamIntramuskular Deksametason6 mg, diulang 4 kali tiap 12 jamIntramuskular Direkomendasikan pada usia kehamilan 24–34 minggu dengan risiko persalinan dalam 7 hari (Derajat A). Dapat ditawarkan pada usia kehamilan 23+0–23+6 minggu dengan risiko persalinan dalam 7 hari (Derajat B). Pengulangan dosis dapat diberikan bila pemberian terakhir >7 hari sebelumnya (Derajat B). Pada usia kehamilan 34+0–36+6 minggu yang belum pernah mendapat kortikosteroid dan berisiko bersalin dalam 7 hari, kortikosteroid dapat diberikan tanpa tokolisis dan tanpa menunda persalinan bila ada indikasi (Derajat A). Antibiotik profilaksis antenatal pada PPROM Pemberian antibiotik tidak rutin pada persalinan preterm tanpa ketuban pecah dan tanpa tanda infeksi (Derajat A). Antibiotik profilaksis diberikan pada perempuan dengan PPROM (Derajat A). SumberRegimen ACOGAmpisilin 2 g IV setiap 6 jam DAN eritromisin 250 mg IV setiap 6 jam selama 48 jam, diikuti amoxicillin 250 mg PO setiap 8 jam DAN eritromisin 333 mg PO setiap 8 jam selama 5 hari NICEEritromisin 250 mg PO setiap 6 jam, maksimal 10 hari (atau hingga bersalin, mana yang lebih cepat) Bila eritromisin tidak dapat digunakan, dapat dipertimbangkan penisilin oral. Co-amoksiklav tidak direkomendasikan sebagai profilaksis PPROM karena berhubungan dengan peningkatan risiko NEC. Regimen dapat disesuaikan dengan pola kuman setempat bila diketahui. Magnesium sulfat (MgSO4) sebagai neuroprotektif Diberikan pada usia kehamilan 23–32 minggu (NICE: 24+0–29+6 minggu) yang diperkirakan bersalin dalam 24 jam (Derajat A). Dosis loading 4 gram bolus IV dalam 15–30 menit, dilanjutkan dosis pemeliharaan 1 gram/jam hingga maksimum 24 jam atau hingga persalinan (Derajat B). Pemantauan ibu sesuai protokol MgSO4 pada preeklamsia/eklamsia, dengan syarat: tersedia kalsium glukonas 10%, refleks patela ada, frekuensi napas >16x/menit, jumlah urin minimal 0,5 mL/kgBB/jam (Derajat A). MgSO4 menurunkan risiko cerebral palsy (RR 0,71; 95% IK 0,55–0,91) dan dapat menurunkan risiko leukomalasia periventrikular kistik. Waktu pemasangan klem tali pusat Penundaan pemasangan klem tali pusat selama 30 detik sampai 3 menit dilakukan bila ibu dan bayi stabil, untuk memfasilitasi transfer oksigen selama tali pusat masih berdenyut (Derajat B). Pada kondisi ibu atau bayi tidak stabil: lakukan pengurutan (milking) tali pusat ke arah bayi dan pemasangan klem sesegera mungkin. Sebelum klem dipasang, bayi diposisikan di bawah level plasenta.
Komplikasi & Prognosis
Kelahiran preterm adalah penyebab utama kematian perinatal. Usia kehamilan saat lahir sangat berkorelasi dengan luaran kehamilan, termasuk kelahiran mati, kematian neonatus (<28 hari), kematian bayi (<12 bulan), serta kelainan fisik dan gangguan intelektual. Frekuensi morbiditas meningkat seiring penurunan usia kehamilan, terutama sebelum usia kehamilan 30 minggu. Dampak pada bayi (jangka pendek dan panjang) Organ/sistemEfek jangka pendekEfek jangka panjang Paru-paruRDS, displasia bronkopulmoner, apneaDisplasia bronkopulmoner, reactive airway disease, asma Sistem pencernaanHiperbilirubin, NEC, pertumbuhan terhambatShort-bowel syndrome, kolestasis Sistem imunitasInfeksi didapat di rumah sakit, defisiensi imun, infeksi perinatalInfeksi RSV, bronkiolitis Sistem saraf pusatPerdarahan intraventrikular, leukomalasia periventrikular, hidrosefalusCerebral palsy, hidrosefalus, atrofi serebri, gangguan perkembangan neurologis dan pendengaran MataRetinopathy of prematurity (ROP)Kebutaan, ablasi retina, miopia, strabismus KardiovaskularHipotensi, hipertensi pulmonalHipertensi pulmonal, hipertensi pada usia lanjut GinjalKetidakseimbangan air dan elektrolit- DarahAnemia- EndokrinHipoglikemia, defisiensi kortisol, defisiensi hormon tiroksinGangguan regulasi glukosa, peningkatan resistensi insulin Sepertiga kasus cerebral palsy dikaitkan dengan kelahiran preterm awal (<32 minggu). Pada studi kohort Inggris terhadap 308 bayi lahir hidup sebelum usia kehamilan 25 minggu, hampir semua memiliki kecacatan pada usia 6 tahun: 22% kelainan neurokognitif berat, 24% kecacatan sedang, 34% kecacatan ringan, dan 20% tanpa cacat neurokognitif. Dampak pada ibu Bayi preterm berisiko tinggi mengalami luaran persalinan buruk yang menekan keluarga secara psikologis — kegelisahan, kelelahan, dan kemunduran mental lebih sering terjadi pada ibu bayi preterm, diperberat oleh operasi caesar dan kontak terbatas dengan bayi. Menyusui dini, kontak fisik (perawatan kanguru), dan praktik berpusat keluarga penting disosialisasikan kepada petugas kesehatan. Persalinan preterm juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kardiovaskular maternal di kemudian hari (resistensi insulin, tekanan darah, dan peradangan tingkat rendah yang lebih tinggi pascasalin), meskipun mekanismenya masih belum sepenuhnya dipahami — apakah persalinan preterm merupakan faktor risiko independen atau penanda profil risiko kardiovaskular yang sudah ada sebelumnya.
Pencegahan & Skrining
Faktor risiko utama Faktor risikoTemuanPeringkat bukti Usia ibu mudaKehamilan ≤19 tahun meningkatkan risiko (OR 1,77)I Jarak antar kehamilan pendek<3 bulan (OR 1,89), 3–5 bulan (OR 1,33), 6–12 bulan (OR 1,15) dibandingkan 18–23 bulanIII Tinggi badan ibu <145 cmRR 1,42I IMT berlebih (>25) awal kehamilanRisiko meningkat seiring IMT; OR 1,26–2,99 tergantung derajat obesitasIII Bakteriuria asimtomatikMeningkatkan insidens persalinan preterm; skrining & tata laksana menurunkan risiko hingga 73%I AnemiaOR 1,21 pada trimester I/III Hipertensi kronikRR 2,7 dibanding normotensiI Diabetes melitusOR 2,35III MerokokKontribusi 10–15% kasus persalinan pretermIII Kehamilan IVFOR 1,14–1,17 dibanding kehamilan spontan/FETI Riwayat persalinan preterm sebelumnyaMeningkatkan risiko rekurensi 1,5–2 kaliIII Progesteron Progesteron vaginal menurunkan risiko persalinan preterm <33 minggu secara bermakna pada perempuan dengan serviks pendek (RR 0,69; 95% IK 0,51–0,93). 17-hydroxy progesterone caproate (17-OHPC) tidak seefektif progesteron oral/vaginal. Rekomendasi: progesteron diberikan mulai usia kehamilan 16–24 minggu hingga 36 minggu pada kehamilan tunggal dengan faktor risiko persalinan preterm, tanpa memandang hasil panjang serviks pada perempuan dengan riwayat persalinan preterm. Progesteron vaginal ditawarkan pada perempuan asimtomatik kehamilan tunggal dengan panjang serviks ≤20 mm pada usia kehamilan ≤24 minggu. Progesteron tidak direkomendasikan pada kehamilan ganda. (Derajat Rekomendasi A) Sirklase serviks Sirklase menurunkan kelahiran preterm, morbiditas, dan mortalitas perinatal pada pasien dengan riwayat kelahiran preterm dan serviks pendek pada USG transvaginal. Dipertimbangkan pada kehamilan tunggal dengan riwayat persalinan preterm dan panjang serviks <25 mm. Tidak direkomendasikan pada kehamilan multipel (dapat meningkatkan risiko persalinan preterm). Tidak direkomendasikan pada panjang serviks <25 mm tanpa riwayat persalinan preterm sebelumnya. Kontraindikasi: plasenta previa, infeksi serviks/vagina/amnion, perdarahan uterus, malformasi janin, kematian janin intrauterin, fetal distress, poli/oligohidramnion, PPROM. Komplikasi tersering: PPROM dan infeksi amnion. Teknik yang umum dipakai: McDonald dan Shirodkar. (Derajat Rekomendasi A) Aspirin dosis rendah Aspirin dosis rendah (50–150 mg) menurunkan insidens persalinan preterm pada perempuan risiko tinggi (mis. riwayat preeklamsia) dibandingkan plasebo (RR 0,22; 95% IK 0,10–0,49). Efektif bila diberikan sebelum usia kehamilan 16 minggu; pemberian setelah 16 minggu tidak terbukti efektif. Rekomendasi: aspirin dosis rendah 80 mg diberikan sebelum usia kehamilan 16 minggu pada perempuan dengan riwayat preeklamsia atau risiko tinggi kehamilan lainnya. (Derajat Rekomendasi A) Mikronutrien Vitamin D, seng, DHA/omega-3: suplementasi menurunkan risiko persalinan preterm (Derajat Rekomendasi A). Besi: suplementasi elemental 30–60 mg/hari menurunkan risiko anemia sebagai faktor risiko persalinan preterm (Derajat Rekomendasi A). Vitamin A: tidak bermakna mencegah persalinan preterm secara langsung, namun menurunkan risiko infeksi dan anemia maternal. Vitamin C dan E: tidak bermakna mencegah persalinan preterm. Intervensi lain Skrining bakteriuria asimtomatik pada kunjungan ANC pertama (Derajat Rekomendasi A). Edukasi kontrasepsi pascasalin untuk memperpanjang jarak antar kehamilan (Derajat Rekomendasi B). Intervensi berhenti merokok, farmakologis dan non-farmakologis, pada perempuan yang akan/sedang hamil (Derajat Rekomendasi B). Perempuan dengan IMT >30 kg/m² dianjurkan merencanakan penurunan berat badan sebelum konsepsi (Derajat Rekomendasi B).
Pedoman & Sumber Daya
Panduan ini adalah adaptasi dari Panduan Persalinan Preterm, disusun oleh Tim Kerja POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) dan HKFM (Himpunan Kedokteran Feto Maternal Indonesia) bersama Dinas Kesehatan Indonesia, cetakan pertama 2019 (ISBN 978-602-52448-1-0). Metodologi Bukti disusun dari hasil penelusuran bukti sekunder (uji kontrol acak, meta-analisis, telaah sistematik, buku ajar, uji klinis, dan panduan organisasi kesehatan) melalui PubMed, Cochrane, dan Clinical Key. Penelusuran awal menghasilkan 1910 (PubMed), 108 (Cochrane), dan 1223 (Clinical Key) kepustakaan; setelah telaah lanjut, 81 artikel digunakan untuk menyusun panduan ini. Setiap bukti ditelaah kritis oleh 3 pakar Obstetri dan Ginekologi. Peringkat bukti mengikuti klasifikasi Oxford Centre for Evidence-Based Medicine (2011), 5 derajat bukti (I–V), dengan derajat rekomendasi A (bukti derajat I), B (derajat II–III), C (derajat IV), dan D (derajat V). Pedoman internasional yang dirujuk ACOG Practice Bulletin No. 171: Management of Preterm Labor (2016) ACOG Practice Bulletin No. 130: Prediction and Prevention of Preterm Birth (2012) ACOG Committee Opinion No. 713: Antenatal Corticosteroid Therapy for Fetal Maturation (2017) NICE Guideline 25: Preterm Labour and Birth (2015) WHO: Recommendations for Prevention and Treatment of Pre-Eclampsia and Eclampsia (2011) Daftar pustaka lengkap tersedia pada bagian Referensi.
Informasi Pasien
Catatan: bagian ini merupakan penyederhanaan bahasa awam dari isi klinis panduan, disusun oleh tim editorial — bukan kutipan langsung dari dokumen sumber. Mohon direview oleh dokter penanggung jawab sebelum dipublikasikan ke pasien. Apa itu persalinan preterm? Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi lebih awal dari perkiraan, yaitu antara usia kehamilan 22 hingga sebelum 37 minggu. Kapan harus segera ke fasilitas kesehatan? Kontraksi/mulas yang teratur dan sering (lebih dari 6 kali dalam 1 jam) Nyeri perut bagian bawah, tekanan di panggul, atau nyeri pinggang yang hilang timbul Keluar cairan dari jalan lahir yang meningkat atau berubah (encer, berbau, atau banyak) Perdarahan atau bercak dari jalan lahir Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko? Rutin memeriksakan kehamilan (ANC) sesuai jadwal Mengonsumsi suplemen sesuai anjuran dokter (zat besi, vitamin D, dan lainnya) Menjaga jarak antar kehamilan (idealnya 18–24 bulan) Berhenti merokok bila merokok Mengikuti anjuran dokter bila memiliki riwayat persalinan preterm sebelumnya, karena kehamilan berikutnya perlu pemantauan lebih ketat (misalnya pemeriksaan panjang mulut rahim/serviks)
Referensi
Sumber utama: Panduan Persalinan Preterm, POGI-HKFM, 2019 (ISBN 978-602-52448-1-0). Daftar pustaka berikut dikelompokkan mengikuti bab asal dalam dokumen sumber. Faktor Risiko, Definisi & Diagnosis ACOG Practice Bulletin No. 171: Management of Preterm Labor. Obstetrics and Gynecology. 2016;128(4):e155-64.Simhan HN, Berghela V. Preterm Labour and Birth. In: Creasy RK, Resnik R, Iams JD, Lockwood CJ, Moore T, Greene MF, editors. Creasy and Resnik's Maternal-Fetal Medicine: Principles and Practice. Elsevier Health Sciences; 2014.Simhan HN, Iams JD, Romero R. Preterm Labor and Birth. In: Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL, Landon MB, Galan HL, Jauniaux ERM, et al., editors. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies. Elsevier Health Sciences; 2016. p. 615-44.Suhag A. Preterm birth prevention in asymptomatic women. In: Berghella V, editor. Obstetrics Evidence Based Guidelines. Maternal Fetal Medicine. 3rd ed. CRC Press; 2017. p. 193-212.Amphan C. Preterm Labor. Thai Journal of Obstetrics and Gynecology. 2002;14:85-99. Faktor Risiko & Prediksi Persalinan Preterm Neal S, Matthews Z, Frost M, Fogstad H, Camacho AV, Laski L. Childbearing in adolescents aged 12-15 years in low resource countries: a neglected issue. New estimates from demographic and household surveys in 42 countries. Acta Obstet Gynecol Scand. 2012;91(9):1114-8.Ganchimeg T, Ota E, Morisaki N, Laopaiboon M, Lumbiganon P, Zhang J, et al. Pregnancy and childbirth outcomes among adolescent mothers: a WHO multicountry study. BJOG. 2014;121 Suppl 1:40-8.Azevedo WF, Diniz MB, Fonseca ES, Azevedo LM, Evangelista CB. Complications in adolescent pregnancy: systematic review of the literature. Einstein (Sao Paulo). 2015;13(4):618-26.Suhag A. Preterm birth prevention in asymptomatic women. In: Berghella V, editor. Obstetrics Evidence Based Guidelines. Maternal Fetal Medicine. 3rd ed. CRC Press; 2017.Nerlander LM, Callaghan WM, Smith RA, Barfield WD. Short interpregnancy interval associated with preterm birth in U.S. adolescents. Matern Child Health J. 2015;19(4):850-8.Kozuki N, Katz J, Lee AC, Vogel JP, Silveira MF, Sania A, et al. Short Maternal Stature Increases Risk of Small-for-Gestational-Age and Preterm Births in Low- and Middle-Income Countries. J Nutr. 2015;145(11):2542-50.Ota E, Hori H, Mori R, Tobe-Gai R, Farrar D. Antenatal dietary education and supplementation to increase energy and protein intake. Cochrane Database Syst Rev. 2015(6):CD000032.Cnattingius S, Villamor E, Johansson S, Bonamy AE, Persson M, Wikström A, Granath F. Maternal Obesity and Risk of Preterm Delivery. JAMA. 2013;309(22):2362-70.Furber CM, McGowan L, Bower P, Kontopantelis E, Quenby S, Lavender T. Antenatal interventions for reducing weight in obese women for improving pregnancy outcome. Cochrane Database Syst Rev. 2013(1):CD009334.Radika MS, Bhaskaram P, Balakrishna N, Ramalakshmi BA, Devi S, et al. Effects of vitamin A deficiency during pregnancy on maternal and child health. BJOG. 2002;109(6):689-93.McCauley ME, van den Broek N, Dou L, Othman M. Vitamin A supplementation during pregnancy for maternal and newborn outcomes. Cochrane Database Syst Rev. 2015(10):CD008666.De-Regil LM, Palacios C, Lombardo LK, Pena-Rosas JP. Vitamin D supplementation for women during pregnancy. Cochrane Database Syst Rev. 2016(1):CD008873.Wilson RL, Grieger JA, Bianco-Miotto T, Roberts CT. Association between Maternal Zinc Status, Dietary Zinc Intake and Pregnancy Complications: A Systematic Review. Nutrients. 2016;8(10).Wibowo N, et al. Assessment of nutrient intake and micronutrient status in the first trimester of pregnant women in Jakarta. Medical Journal of Indonesia. 2017;26:109-15.Ota E, Mori R, Middleton P, Tobe-Gai R, Mahomed K, Miyazaki C, et al. Zinc supplementation for improving pregnancy and infant outcome. Cochrane Database Syst Rev. 2015(2):CD000230.Carmichael SL, Yang W, Shaw GM, National Birth Defects Prevention Study. Maternal dietary nutrient intake and risk of preterm delivery. Am J Perinatol. 2013;30(7):579-88.Lassi ZS, Moin A, Das JK, Salam RA, Bhutta ZA. Systematic review on evidence-based adolescent nutrition interventions. Ann N Y Acad Sci. 2017;1393(1):34-50.Haider BA, Bhutta ZA. Multiple-micronutrient supplementation for women during pregnancy. Cochrane Database Syst Rev. 2017;4:Cd004905.Siega-Riz AM, Promislow JHE, Savitz DA, Thorp JM, McDonald T. Vitamin C intake and the risk of preterm delivery. Am J Obstet Gynecol. 2003;189(2):519-25.Rumbold A, Ota E, Nagata C, Shahrook S, Crowther CA. Vitamin C supplementation in pregnancy. Cochrane Database Syst Rev. 2015(9):CD004072.Rumbold A, Ota E, Hori H, Miyazaki C, Crowther CA. Vitamin E supplementation in pregnancy. Cochrane Database Syst Rev. 2015.Carlson SE, Colombo J, Gajewski BJ, Gustafson KM, Mundy D, Yeast J, et al. DHA supplementation and pregnancy outcomes. Am J Clin Nutr. 2013;97(4):808-15.Kar S, Wong M, Rogozinska E, Thangaratinam S. Effects of omega-3 fatty acids in prevention of early preterm delivery: a systematic review and meta-analysis of randomized studies. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. 2016;198:40-6.ACOG Practice Bulletin No. 130: Prediction and Prevention of Preterm Birth. Obstetrics and Gynecology. 2012;120(4).Romero R, Oyarzun E, Mazor M, Sirtori M, Hobbins JC, Bracken M. Meta-analysis of the relationship between asymptomatic bacteriuria and preterm delivery/low birth weight. Obstet Gynecol. 1989;73:576-82.Haider BA, Olofin I, Wang M, Spiegelman D, Ezzati M, Fawzi WW, et al. Anaemia, prenatal iron use, and risk of adverse pregnancy outcomes: systematic review and meta-analysis. BMJ. 2013;346:f3443.Rahman MM, Abe SK, Rahman MS, Kanda M, Narita S, Bilano V, et al. Maternal anemia and risk of adverse birth and health outcomes in low- and middle-income countries: systematic review and meta-analysis. Am J Clin Nutr. 2016;103(2):495-504.Bramham K, Parnell B, Nelson-Piercy C, Seed PT, Poston L, Chappell LC. Chronic hypertension and pregnancy outcomes: systematic review and meta-analysis. BMJ. 2014;348:g2301.Madan J, Chen M, Goodman E, Davis J, Allan W, Dammann O. Maternal obesity, gestational hypertension, and preterm delivery. J Matern Fetal Neonatal Med. 2010;23(1):82-8.Kock K, Kock F, Klein K, Bancher-Todesca D, Helmer H. Diabetes mellitus and the risk of preterm birth with regard to the risk of spontaneous preterm birth. J Matern Fetal Neonatal Med. 2010;23(9):1004-8.American Diabetes Association. Diagnosis and classification of diabetes mellitus. Diabetes Care. 2010;33 Suppl 1:S62-9.Wahabi HA, Alzeidan RA, Bawazeer GA, Alansari LA, Esmaeil SA. Preconception care for diabetic women for improving maternal and fetal outcomes: a systematic review and meta-analysis. BMC Pregnancy Childbirth. 2010;10:63.Diabetes in Pregnancy: Management of Diabetes and Its Complications from Preconception to the Postnatal Period. National Institute for Health and Care Excellence; 2015.Polakowski LL, Akinbami LJ, Mendola P. Prenatal smoking cessation and the risk of delivering preterm and small-for-gestational-age newborns. Obstet Gynecol. 2009;114(2 Pt 1):318-25.Coleman T, Chamberlain C, Davey MA, Cooper SE, Leonardi-Bee J. Pharmacological interventions for promoting smoking cessation during pregnancy. Cochrane Database Syst Rev. 2015(12):CD010078.Sunkara SK, La Marca A, Seed PT, Khalaf Y. Increased risk of preterm birth and low birthweight with very high number of oocytes following IVF: an analysis of 65,868 singleton live birth outcomes. Hum Reprod. 2015;30(6):1473-80.Zhao J, Xu B, Zhang Q, Li YP. Which one has a better obstetric and perinatal outcome in singleton pregnancy, IVF/ICSI or FET? A systematic review and meta-analysis. Reprod Biol Endocrinol. 2016;14(1):51.Bolotskikh V, Borisova V. Combined value of placental alpha microglobulin-1 detection and cervical length via transvaginal ultrasound in the diagnosis of preterm labor in symptomatic patients. J Obstet Gynaecol Res. 2017;43(8):1263-9.Crane JM, Hutchens D. Transvaginal sonographic measurement of cervical length to predict preterm birth in asymptomatic women at increased risk: a systematic review. Ultrasound Obstet Gynecol. 2008;31(5):579-87.Kumari A, Saini V, Jain PK, Gupta M. Prediction of Delivery in Women with Threatening Preterm Labour using Phosphorylated Insulin-Like Growth Factor Binding Protein-1 and Cervical Length using Transvaginal Ultrasound. J Clin Diagn Res. 2017;11(9):QC01-4.Nikolova T, Bayev O, Nikolova N, Di Renzo GC. Comparison of a novel test for placental alpha microglobulin-1 with fetal fibronectin and cervical length measurement for the prediction of imminent spontaneous preterm delivery in patients with threatened preterm labor. J Perinat Med. 2015;43(4):395-402.Kagan KO, Sonek J. How to measure cervical length. Ultrasound Obstet Gynecol. 2015;45(3):358-62.Deshpande SN, van Asselt AD, Tomini F, Armstrong N, Allen A, Noake C, et al. Rapid fetal fibronectin testing to predict preterm birth in women with symptoms of premature labour: a systematic review and cost analysis. Health Technol Assess. 2013;17(40):1-138.Lucaroni F, Morciano L, Rizzo G, D'Antuono F, Buonuomo E, Palombi L, et al. Biomarkers for predicting spontaneous preterm birth: an umbrella systematic review. J Matern Fetal Neonatal Med. 2018;31(6):726-34.Celik E, To M, Gajewska K, Smith GC, Nicolaides KH. Cervical length and obstetric history predict spontaneous preterm birth: development and validation of a model to provide individualized risk assessment. Ultrasound Obstet Gynecol. 2008;31(5):549-54. Pencegahan Persalinan Preterm Di Renzo GC, Roura LC, Facchinetti F, Antsaklis A, Breborowicz G, Gratacos E, et al. Guidelines for the management of spontaneous preterm labor: identification of spontaneous preterm labor, diagnosis of preterm premature rupture of membranes, and preventive tools for preterm birth. J Matern Fetal Neonatal Med. 2011;24(5):659-67.Romero R, Conde-Agudelo A, El-Refaie W, Rode L, Brizot ML, Cetingoz E, et al. Vaginal progesterone decreases preterm birth and neonatal morbidity and mortality in women with a twin gestation and a short cervix: an updated meta-analysis of individual patient data. Ultrasound Obstet Gynecol. 2017;49(3):303-14.Romero R, Yeo L, Chaemsaithong P, Chaiworapongsa T, Hassan SS. Progesterone to prevent spontaneous preterm birth. Semin Fetal Neonatal Med. 2014;19(1):15-26.Salati J, Caughey AB. Progesterone for the Prevention of Preterm Birth. NeoReviews. 2014;15(11):e484.Nelson DB, McIntire DD, McDonald J, Gard J, Turrichi P, Leveno KJ. 17-alpha hydroxyprogesterone caproate did not reduce the rate of recurrent preterm birth in a prospective cohort study. Am J Obstet Gynecol. 2017;216(6):600.e1-9.ACOG Practice Bulletin No. 130: Prediction and Prevention of Preterm Birth. Obstetrics and Gynecology. 2012;120(4).NICE Guideline 25: Preterm labour and birth. 2015.Brown R, Gagnon R, Delisle M-F, Bujold E, Basso M, et al. Cervical Insufficiency and Cervical Cerclage. J Obstet Gynaecol Can. 2013;35(12):1115-27.McDonald IA. Suture of the cervix for inevitable miscarriage. J Obstet Gynaecol Br Emp. 1957;64:346-50.Barter RH, Dusbabek JA, Tyndal CM, Erkenbeck RV. Further experiences with the Shirodkar operation. Am J Obstet Gynecol. 1963;85(6):792-805.Bujold E, Roberge S, Tapp S, Giguere Y. Opinion & hypothesis: could early aspirin prophylaxis prevent against preterm birth? J Matern Fetal Neonatal Med. 2011;24(7):966-7.Xu TT, Zhou F, Deng CY, Huang GQ, Li JK, Wang XD. Low-Dose Aspirin for Preventing Preeclampsia and Its Complications: A Meta-Analysis. J Clin Hypertens (Greenwich). 2015;17(7):567-73.Henderson JT, Whitlock EP, O'Connor E, Senger CA, Thompson JH, Rowland MG. Low-dose aspirin for prevention of morbidity and mortality from preeclampsia: a systematic evidence review for the U.S. Preventive Services Task Force. Ann Intern Med. 2014;160(10):695-703.Visser L, de Boer MA, de Groot CJM, Nijman TAJ, Hemels MAC, Bloemenkamp KWM, et al. Low dose aspirin in the prevention of recurrent spontaneous preterm labour: the APRIL study, a multicenter randomized placebo controlled trial. BMC Pregnancy Childbirth. 2017;17(1):223.Magee LA, Helewa M, Rey E, Cardew S, Côté A-M, Douglas MJ, et al. Diagnosis, Evaluation, and Management of the Hypertensive Disorders of Pregnancy. J Obstet Gynaecol Can. 2008;30(3):S1-2.WHO. Recommendations for Prevention and Treatment of Pre-Eclampsia and Eclampsia. Geneva: World Health Organization; 2011. Dampak pada Bayi dan Ibu NICE. Preterm Labour and Birth. National Institute for Health and Care Excellence. 2015:1-27.ACOG Committee Opinion. Management of Preterm Labor. Practice Bulletin. 2016:171.Berghella V. Obstetric Evidence Based Guidelines. 3rd ed. CRC Press; 2017. p. 213-26.Di Renzo GC, Roura LC, Facchinetti F, et al. Guidelines for the management of spontaneous preterm labor: identification of spontaneous preterm labor, diagnosis of preterm premature rupture of membranes, and preventive tools for preterm birth. J Matern Fetal Neonatal Med. 2011;24(5):659-67.ACOG Committee Opinion. Antenatal Corticosteroid Therapy for Fetal Maturation. ACOG Committee on Obstetric Practice. 2017:130(2). Tatalaksana NICE. Preterm Labour and Birth. National Institute for Health and Care Excellence. 2015:1-27.ACOG Committee Opinion. Management of Preterm Labor. Practice Bulletin. 2016:171.NICE Guideline 25: Preterm labour and birth. 2015.Ness A, Blumfeld Y, Sung J. Preterm Labour. In: Berghella V, editor. Preterm Birth: Prevention and Management. Wiley Blackwell; 2010. p. 198.ACOG Committee Opinion. Magnesium Sulfate Before Anticipated Preterm Birth for Neuroprotection. 2010:115(3). p. 669-71.Di Renzo GC, Roura LC, Facchinetti F, et al. Guidelines for the management of spontaneous preterm labor: identification of spontaneous preterm labor, diagnosis of preterm premature rupture of membranes, and preventive tools for preterm birth. J Matern Fetal Neonatal Med. 2011;24(5):659-67.Ota E, Mori R, Middleton P, Tobe-Gai R, Mahomed K, Miyazaki C, et al. Zinc supplementation for improving pregnancy and infant outcome. Cochrane Database Syst Rev. 2015(2):CD000230.Magee L, Sawchuck D, Synnes A, et al. Magnesium Sulphate for Fetal Neuroprotection. J Obstet Gynaecol Can. 2011;33(5):516-29.Rouse DJ, Hirtz D, Thom E, et al. A Randomized, Controlled Trial of Magnesium Sulfate for the Prevention of Cerebral Palsy. N Engl J Med. 2008;359(9):895-905.Conde-Agudelo A, Romero R. Antenatal magnesium sulfate for the prevention of cerebral palsy in preterm infants less than 34 weeks' gestation: a systematic review and meta-analysis. Am J Obstet Gynecol. 2009;200(6):595-609.
Komentar klinis dari anggota terkait topik ini
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi masukan klinis.
4 alur tata laksana untuk Persalinan Preterm
Evaluasi pasien dengan kecurigaan persalinan preterm pada usia kehamilan 22+0-36+6 minggu (adaptasi Bagan 1, linearisasi dari flowchart bercabang asli).
Algoritme khusus anggota
Masuk untuk melihatSkrining dan pencegahan persalinan preterm pada asuhan antenatal (adaptasi Bagan 2, linearisasi dari flowchart bercabang asli).
Algoritme khusus anggota
Masuk untuk melihatTatalaksana persalinan preterm tanpa ketuban pecah, berdasarkan usia kehamilan (adaptasi Bagan 3).
Algoritme khusus anggota
Masuk untuk melihatTatalaksana ketuban pecah dini preterm (PPROM), berdasarkan usia kehamilan dan kondisi ibu/janin (adaptasi Bagan 4).
Algoritme khusus anggota
Masuk untuk melihatMenu Topik
Keyakinan bukti:
Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Persalinan Preterm. Panduan Klinis ObGin [Internet]. 2026 [diakses 28 Agt 2026]. Tersedia dari: https://kolegiumobgin.kki.go.id/panduan-klinis/kondisi/persalinan-preterm